SAR ITU KEHORMATAN, BUKAN HEROISME!

Oleh :

Deni Nurindragani

(Wakil Komandan Bidang Keorganisasian SAR KLATEN)

Operasi search and rescue (SAR) berupa mengevakuasi jenazah Eri Yunanto, pendaki yang terjatuh di kawah Gunung Merapi, secara resmi ditutup Selasa (19/05) lalu.

Sebanyak 22 komponen SAR dan sukarelawan yang tergabung dalam operasi dramatis tersebut sudah kembali ke pos mereka masing-masing. Seharusnya kalau ada yang masih dilakukan adalah evaluasi agar operasi SAR mendatang bisa dijalankan lebih baik, efisien, efektif, dan zero accident.

Sayang, sejak Rabu (20/5) pagi hingga Sabtu (23/5) muncul beberapa riak kecil yang mengganggu recovery para personel SAR gabungan tersebut. Gangguan itu diawali tudingan diskriminasi terhadap wartawan hingga komplain dari sebuah komponen sukarelawan ke salah satu unsur SAR.

Yang termutakhir adalah pernyataan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang akan memberikan penghargaan kepada setiap unsur yang terlibat dalam operasi SAR mengevakuasi jenazah Eri Yunanto.

Tulisan ini tidak bermaksud memperkeruh suasana tetapi justru sebisa mungkin memberikan pendapat bagaimana sebuah operasi SAR dilaksanakan sehingga setelah operasi tidak ada tudingan maupun manuver tertentu yang justru menyesakkan dada.

Semua Berjasa

Pertama, di sudut dunia manapun operasi SAR adalah sebuah sistem. Seluruh komponen yang terlibat memiliki peran taktis maupun strategis yang sama, mulai dari para pelaksana evakuasi hingga personel di dapur umum.

Kalau boleh disebut berjasa, jasa mereka sama besar. Para pelaksana evakuasi yang turun ke kawah Merapi mengambil jenazah Eri Yunanto tidak bisa dianggap lebih heroik ketimbang sukarelawan dan warga yang menyiapkan makanan di dapur umum.

Kedua, Gunung Merapi adalah salah satu gunung berapi paling aktif di dunia. Setiap ada kejadian di tempat itu perhatian masyarakat langsung fokus ke sana. Hampir mustahil menutup akses informasi kepada dunia luar, termasuk kepada para wartawan. Begitu juga ketika terjadi kecelakaan yang menimpa Eri Yunanto di puncak Merapi tempo hari.

Dua hal di atas menjadi hal penting dari tulisan ini karena hiruk pikuk isu setelah operasi SAR yang tidak terekspose media manapun terasa cukup mengganggu. Tudingan diskriminasi muncul tatkala proses evakuasi jenazah Eri Yunanto tidak menggunakan jalur utama yang melalui New Selo.

Sehari kemudian, pada saat tiga anggota SAR Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) diwawancarai sebuah stasiun televisi suasana kian gaduh. Muncul anggapan wawancara live diselingi ilustrasi tayangan sebagian kecil proses evakuasi itu merupakan pelanggaran kesepakatan terkait rilis informasi kepada media.

Secara teknis, operasi SAR evakuasi jenazah Eri Yunanto tidak tertutup terhadap media massa. Kebijakan menutup informasi ke publik pun tidak dilakukan. Hal ini ditegaskan oleh para personel SAR gabungan yang memegang kendali manajemen operasi.

Buktinya, secara periodik ada konferensi pers kepada wartawan terkait perkembangan dan hasil sementara operasi. Keputusan untuk membuat jalur lain untuk menurunkan jasad Eri Yunanto pun sebenarnya diinformasikan secara terbuka.

Para jurnalis diberi informasi bahwa serah terima jenazah mahasiswa Universitas Atmajaya Yogyakarta tersebut dilakukan di RSUD Boyolali. Berikutnya, pada saat wawancara live dengan narasumber tiga personel SAR DIY itu, sejak tayangan tersebut dimulai hingga selesai, tidak ada pelanggaran kaidah jurnalistik sedikit pun.

Ilustrasi sebagian kecil proses evakuasi juga tidak keluar dari koridor aturan karena sebatas menampilkan proses turunnya pelaksana evakuasi ke kawah Gunung Merapi, sama sekali tidak menampakkan jasad Eri Yunanto.

Penghargaan

Tiga personel SAR tersebut pun secara gamblang menyebut peran penting unsur lain dalam keberhasilan operasi. Ketegangan sebagai dampak dua hal di atas belum benar-benar turun ketika Sabtu (23/5) Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo berencana memberikan penghargaan kepada para personel SAR yang terlibat dalam operasi SAR evakuasi jenazah Eri Yunanto.

Pernyataan tersebut disampaikan pada saat Gubernur Ganjar Pranowo menerima perwakilan anggota SAR Barameru, Boyolali. Pada kesempatan yang sama, Ganjar juga meminta operasi SAR tersebut dibukukan.

Kata ”penghargaan” itu tidak pernah ada dalam kamus personel SAR manapun selama mereka profesional. Penghargaan untuk personel SAR tersebut sudah melekat.

Ketika operasi SAR selesai dengan baik, efektif, efisien, zero accident, dan targetnya tercapai, itulah penghargaan sebenarnya. Gubernur Jawa Tengah atau siapa pun tidak perlu memberikan penghargaan kepada SAR dalam konteks penghargaan atas keberhasilan setiap operasi.

Itu semua memang tugas SAR. Setiap personel SAR sebelum masuk ke organisasi tersebut pasti sadar dengan pilihan mereka. Mereka sadar misalnya tidak ada sedikit pun liputan media atau bahkan penghargaan, para personel SAR tidak akan mengubah hakikat tugas mereka.

Jika Gubernur Jawa Tengah ingin memberikan perhatian lebih kepada unsur SAR, lebih pas apabila hal itu dilakukan secara periodik. Bentuknya berupa peningkatan kapasitas personel.

Setelah personel SAR makin pintar, terampil, tidak gagap, peralatan mereka bisa ditambah sesuai dengan kemampuan personel sekaligus menyesuaikan potensi kerawanan di daerah masing-masing.

Dukungan yang demikian ini akan lebih elegan dan tidak menimbulkan kesan bahwa setiap SAR berhasil menggelar operasi selalu berharap penghargaan. Sekali lagi, itu tidak perlu.

Mari berharap kejadian seperti yang dialami Eri Yunanto tidak terulang. Yang lebih penting lagi, tidak perlu ada kegaduhan maupun tudingan-tudingan tidak berdasar kepada sesama komponen operasi SAR.

Akan lebih baik semua diselesaikan secara terbuka di meja evaluasi bersama. Bagi SAR yang profesional, meningkatkan kemampuan adalah hal mutlak, termasuk memahami secara utuh sistem operasi.

Setelah itu, setop seluruh tudingan tidak sedap kepada setiap unsur operasi SAR. Biarkan evaluasi berjalan maksimal. Kita beri kesempatan kepada keluarga Eri Yunanto untuk mengendapkan duka dan kembali melanjutkan hidup.

Semoga Tulisan ini sebagai bahan renungan dan pembelajaran kita bersama